[feebroo]
link
Mohammed

Suara hujan bergemuruh. Tetesannya sekilas seperti gambar tivi yang kabur. Samar-samar, pria yang duduk di depan saya pandangannya menerawang. Sambil sesekali menyeruput teh hangat di tangan kanannya.

Saya menghela napas sambil menatapnya, seperti tidak bisa berkata apa-apa. “I wish I can..” kata saya dalam hati sendiri.

Sore itu, ya, saya terdampar di lantai dua sebuah rumah kontrakan. Sunyi. Rumah itu spontan hanya riuh dengan bunyi ratusan ikan berenang-renang di kolam, selain hujan. 

Ini rumah kontrakan ‘kawan’ saya yang baru. Dia baru saja melalui perjalanan panjang. Dari negeri Timur Tengah. Di mana konon, Taliban pernah berkuasa.

“The Mountain is beautiful, isn’t it? This place is very peaceful,” kata dia.

“That’s Salak Mountain. Salak is taken from fruit’s name, a kind of fruit in Indonesia,” jawab saya yang masih gagap berbahasa Inggris.

Saya memiringkan badan saya ke arahnya. Tapi dia tetap menghadap ke arah gunung, sambil sesekali melihat kolam.

Saya mengamatinya. Parasnya euroasia. Begitu saya menyebutnya. Sebab, rambutnya coklat semur blondie. Tapi kulitnya seperti orang Asia. Putih-kuning langsat.

Baru dua jam saya mengenalnya, tapi tiba-tiba, saya merasa terlibat dengan petualangan hidupnya. Sebagai seorang imigran dari Timur Tengah.

“I have a complex story about it. But I don’t want to talk about it. I just can’t,” katanya.

“it’s painful. I know” kata saya.

Dua puluh satu hari yang lalu, kawan saya ini mengaku terdampar di negara dunia ketiga bersama ibunya. Lalu, dia menerobos daratan, dan datang ke tempat di mana banyak pula orang yang senasib dengannya saat ini. “Pelarian”.

Sebelum itu, ia mengungkap alasannya, kenapa dia harus bersusah payah untuk sekedar “terdampar” di Indonesia. Salah satunya, adalah cita-cita.

Ia bertutur soal cita-citanya. Dari tuturnya, saya bisa menangkap, dia pemuda yang sedang bingung tapi dengan cita-cita segunung.

“I want a new life. A brand new life.,” katanya tiba-tiba.

“You want to be a professional?” Tanya saya.

“Yes, I want it.” Jawabnya.

“It  could be a journalist, doctor, or engineer,” kata saya tersenyum.

“Yes, I could be that one,” katanya membalas senyum saya.

Young and restless, 25 years old, he opened my eyes, how lucky I am. Maybe, my parents’re not rich, but I’m “rich”. But, I live in a peaceful country. I have my dream as a journalist. I am a freedom person in thinking of my spiritualism. And the most important thing is, I am standing on my own two feet and earning my own money. I’m so damn lucky!

Kembali ke kawan saya. Ibarat botol, dia terapung-apung di lautan. Berharap raganya tersapu ombak hingga ke “tanah yang dijanjikan” Sebuah benua di sudut selatan bumi, dekat dengan Antartika. Magnet benua itu lah yang menggiringnya hingga terdampar di Indonesia.

“Would you stay for tonight?” Tanyanya pada saya yang melamun sendiri.

“I don’t think so. I have to go back to my office. Some exercise are waiting for me,” kata saya sambil tersenyum lebar, pertanda sebenarnya saya ngabur untuk ketemu Anda.

“I hope that you can stay.”

“I promise, next time, I will.”

Begitu juga, saya mengundang dia balik. Menikmati Jakarta. Entah dari sudut mana. Mungkin cuma polusi dan macet yang bisa saya suguhkan. Di mana gunung berganti dengan gedung pencakar langit. Dan kolam ikan yang berisik diganti dengan para pengamen jalanan setengah preman.

Pertemuan itu hanya ditutup dengan senyum. Saya dan kawan saya. Dia tidak memberikan cipika-cipiki pada saya, jangankan itu, bersalaman saja dia tidak. Sungguh sopan dan elegan budaya timur yang dia jaga. Saya terkesan.

Cisarua, 4 Mei 2012

Velbak,

02.29 WIB

5 Mei 2012

link

Makin suka konsepnya. Celana, baju panjang, warna terang dominan dipadu hitam-hitam. Cocok buat kondangan malam hari.

link
Love this stuff by Indiej

Love this stuff by Indiej

link
@mayestikadhewi : Indiej *berbakat doi

@mayestikadhewi : Indiej *berbakat doi

link

@mayestikadhewi : @houseofnabilia

link

@mayestikadhewi : Jenahara (fave this)

link

@mayestikadhewi : Ghaida

link

@mayestikadhewi : Ria Miranda

link
Warung Kopi Dono Kasino Indro di Tempo Doloe Jakarta Fashion & Food Festival 2012. Macem layar tancep gitu. Ini foto favorit saya.

Warung Kopi Dono Kasino Indro di Tempo Doloe Jakarta Fashion & Food Festival 2012. Macem layar tancep gitu. Ini foto favorit saya.

link

Tempo Doeloe Jakarta Fashion & Food Festival @anindyaloka